Tasikmalaya,Jurnal Reformasi.com
Dinas PUTRLH Kabupaten Tasikmalaya menegaskan bahwa sejumlah titik pengelolaan sampah binaan telah berjalan di beberapa desa, mulai dari Desa Sukaasih, bak sampah Kampung Juragan, Batiresik, hingga bak sampah Induk Berseka. Program ini menunjukkan kemampuan masyarakat yang telah fokus mengelola sampah, mulai dari maggot hingga kerajinan berbahan limbah.
Kabid Ine menjelaskan bahwa pihaknya juga melibatkan SMPN 1 Cisayong sebagai salah satu sekolah abyakta yang tengah menuju kemandirian dalam pengelolaan lingkungan.
Ine mengungkapkan, estimasi timbunan sampah di Kabupaten Tasikmalaya mencapai 880 ton per hari, namun yang mampu ditangani baru sekitar 40 ton, dan itu pun hanya mencakup desa-desa terdepan di 12 kecamatan. Desa yang jauh belum terjangkau karena keterbatasan armada.
“Kami hanya memiliki sembilan armada. Dengan kondisi itu, pengangkutan sampah ke TPA hanya mampu 40 ton per hari. Sementara TPA diprediksi akan mengalami over kapasitas dalam 5–6 tahun ke depan,” ujarnya.Sabtu (29/11/2025)
Melalui kegiatan sosialisasi, Dinas PUTRLH mendorong desa-desa untuk mengelola sampah secara mandiri berbasis partisipasi masyarakat. Ia juga mengajak masyarakat serta pelajar untuk peduli lingkungan karena sampah dapat menjadi sumber ekonomi.
“Sampah itu bukan menjijikan, tapi menjanjikan,” pungkasnya.(NS)

















