Tasikmalaya,Jurnal Reformasi.com –
Coretan-coretan bernada kritik yang muncul di dinding Gedung DPRD Kabupaten Tasikmalaya menjadi tamparan keras bagi para wakil rakyat. Tulisan-tulisan tersebut bukan sekadar vandalisme, melainkan simbol nyata kekecewaan publik terhadap lembaga yang seharusnya menjadi wadah aspirasi masyarakat.
Beberapa tulisan yang tertulis di dinding luar gedung, seperti “Moro Bati Gede (MBG)”, Hidup Rakyat Kantor Rakyat “DPRD, Jangan Hanya Duduk Diam!”, dan “Kami Butuh Perubahan, Bukan Janji Kosong!”, menggambarkan amarah yang selama ini terpendam. Aksi tersebut diyakini sebagai bentuk protes spontan atas minimnya respon DPRD terhadap berbagai persoalan daerah yang dirasakan langsung oleh warga.
Salah seorang warga, yang enggan disebutkan namanya mengatakan, “Kami merasa suara kami tidak didengar. Banyak janji yang tak pernah terwujud. Ini adalah bentuk rasa frustrasi kami terhadap para wakil rakyat yang seharusnya memperjuangkan kepentingan rakyat.”ujarnya jumat (10/10/ 2025)
Sementara itu,Aktivis anti korupsi dan sosial,Ahmad Najmudin, Ketua Serikat masyarakat Tasikmalaya (SEMATA) menilai bahwa insiden ini merupakan peringatan keras dari rakyat.
“Coretan itu bukan tindakan iseng. Itu adalah bentuk keputusasaan warga terhadap sistem yang gagal menyalurkan aspirasi mereka. Gedung DPRD kini menjadi saksi bisu gagalnya fungsi representasi,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa DPRD seharusnya menjadi jembatan antara rakyat dan pemerintah, bukan sekadar simbol kekuasaan.
“Jika rakyat sudah memilih tembok untuk berbicara, artinya suara mereka sudah tak lagi didengar di ruang sidang,” pungkasnya.
Peristiwa ini menjadi cerminan betapa jauhnya jarak antara rakyat dan wakilnya di kursi parlemen daerah. Kini, masyarakat menunggu langkah konkret DPRD Kabupaten Tasikmalaya untuk membuktikan bahwa mereka masih pantas disebut sebagai wakil rakyat, bukan sekadar penghuni gedung megah.(Nano)

















